Senin, 14 November 2011

I don't Have a Dream part I


CYYIIIIITTTT….BRAAKK!!!
Gelapnya jalan menutupi semua arah jalan yang harus kutempuh. Aku harus cepat dan mempersiapkan segalanya, make up ku, gaun ku yang sudah disiapkan mama beberapa bulan yang lalu, dan yang paling penting… biolaku. Aku harus memainkannya sebelum pementasanku di mulai. Kucium biolaku sambil berlari. Hari ini, tepat malam ini jam 9 ini, semua mimpiku akan terwujud. Keinginan Mama yang sudah lama terpendam dan kini ia bisa menyaksikan, konser putrinya ini. Aku akan mencatat semua kejadian hari ini, hari bersejarah yang akan membawaku ke mimpi dan cita-citaku sejak kecil.
Ah, ini dia! Julian Music School. Sekolah kebanggaan yang akhirnya membuatku menggapai cita-citaku yang malam ini akan mulai kuinjak tangganya, Hall room Julian School. Ternyata sudah di mulai, aku segera berlari menuju belakang Hall room untuk mempersiapkan makeup ku. Jantungku semakin derdetak kencang setelah memasuki halaman depan sekolah. Sungguh, aku bisa merakan getaran-getaran nada biola di telingaku, semua note note music c minor yang aku buat, membuatku seolah malaikat benar-benar menyambut kedatangnku malam ini. Sungguh indah.
Aku masuk ke ruang ganti dan melihat gaunku yang sudah siap terpasang di sana. Lalu aku berlari ke ruang makeup, ternyata mereka semua sudah siap, Fara dan Ove teman-teman satu kelasku. Tapi…
“Apa yang terjadi?” tanyaku. Tak ada yang menyahut.
Aku sama sekali tak melihat kebahagiaan dan kebanggaan di mata mereka seperti kemarin saat latihan. Mereka diam, memaku duduk di meja rias tanpa ada pembicaraan. Tak boleh ada satupun yang bersedih hari ini.
“Hei hei kalian kenapa?”
“Hiks…” Fara mengelap airmatanya dan mendekati Ove. “Hiks… Gak mungkin ini terjadi, gak mungkin.” Suara tangis Fara semakin mengeras.
Terlihat Ove Manahan tangsinya, ia memeluk Fara, “mungkin ini memang sudah jalannya.”
“Fara, Ove kalian kenapa?”
“Aku bahkan masih bisa merasakan Angela disini.” Fara menjerit.
“Fara… aku memang disini, kalian kenapa, hei!” suaraku sedikit mengeras, dadaku bergetar mendengar kalimat Fara barusan. Entah kenapa tiba-tiba aku takut.
“apalagi yang bisa kita lakukan tanpanya? Kita tak bisa main. Hiks…aku gak percaya.”
Tangis Ove benar-benar tak terbendung lagi. Ia menagis. “Angela belum meninggal, ia pasti akan datang melihat kita.”
Sebuah kilatan menghancurkan hatiku, aku benar-benar ketakutan.

bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar disini :)