Rabu, 20 September 2017

Diskusi Ibu dan Anak

The toughest moment of being daughter. Having to explain to Mom what kind of man I need to lead me to jannah.
Bagi sebagian orang (termasuk saya) pernikahan Laudya Chintya Bella dan Engku Emran sangat menyentuh, bikin baper, dan inspiratif. Kenapa inspiratif? Krn setelah melihat dan membaca ceritanya di socmed jadi pengen ikutan wkwkwk...
Tapi sesungguhnya, proses dan caranya beneran menginspirasi saya juga sih. Akhirnya, saya pulang ke rumah hari Sabtu sore dan kembali ke Jakarta hari Senin pagi untuk berdiskusi dengan Ibu. Ya, hanya Ibu.

Ada satu perbedaan prinsip antara saya dengan Ibu dalam menentukan pasangan. Sebagai anak yang cukup konservatif, saya menyadari bahwa ridho orang tua adalah ridho Allah. Inilah yang membuat saya memutuskan untuk berusaha menyamakan atau paling tidak menemukan satu kesepakatan. Hampir satu tahun berdiskusi dan sampai hari ini saya belum menemukan akar masalah penyebab perbedaan. Sesusah itu memahami orang tua. Sesulit itu.

Hingga terakhir diskusi weekend lalu, hasilnya adalah belum berhasil, sedikit lagi!
Tahap selanjutnya, saya harus meningkatkan level diskusi ini. Sesama wanita labil dan punya pendirian kuat (ini bukannya kontras ya?), kami berdua punya jalan dan cara masing-masing untuk saling mempengaruhi dan menang dengan caranya.

Tapi kali ini saya tidak ingin menang, saya ingin Ibu yang menang. Tetapi beliau harus memahami saya sebagai anak jaman sekarang bukan anak jaman dulu yang mengikuti langkah, cara dan pemikiran jadul. Anak jaman sekarang yang diijinkan kuliah dan memiliki teman tak terbatas waktu dan tempat (contohnya kenal doraemon dari abad 22).

Saya yakin, orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Oleh karena itu, saya masih berusaha (entah sampai kapan) meyakinkan orang tua bahwa kita sama-sama tidak pernah tau dari mana datangnya yang terbaik, makanya buka semua kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik.
Wish me luck!


Minggu, 06 Agustus 2017

Rabu, 17 Mei 2017

Mengalah

Di kampus, kamu bisa memilih teman sesuka hati dan memperlakukan mereka bagaimanapun kamu mau. Tapi di tempat kerja, kamu tak punya pilihan dan gak bisa memilih berteman dengan siapa selain karyawan sekantor.
Dulu, jaman mahasiswa aku yakin banyak antifans (kayak punya fans aja sih mbak u.u) yang kesel dan benci denganku. Aku bisa ngomel dan marah sesukaku kalau mereka melakukan sesuatu yang gak sesuai keinginanku. Bisa saja aku gak temenan lagi pasca event karena pernah berantem, meskipun ilang satu temen, tapi masih banyak mahasiswa lain yang bisa aku ajak temanan dan event bareng. Aku bisa memilih team sesuka hatiku, sesuai keinginanku dan berapapun jumlahnya.
Sekarang, aku gak punya semua kesempatan itu.
Kesempatan memilih tim dan memilih teman lagi bisa saya dapatkan di kantor. Penentu karyawan, rekan kerja, siapa yang akan bekerja, dan tim adalah kekuasaan HR. Semuanya "udah dari sononya". Bahkan saat aku masuk, semua orang sudah ada disini sesuai fungsi masing-masing dan akan bekerja dengan tim mayoritas lelaki yang jauh senior. Aku? Anak baru lulus kemarin dengan IP pas pasan, kecil kayak upil diantara beruang (ciyus).

---

bersambung besok ya wkwk

Kamis, 20 April 2017

Perbedaan

Bedanya laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta versi saya:

Kalau lelaki sudah jatuh cinta dan berniat menikahi,  dia bisa langsung mencari info dan menyatakan niatnya.

Kalau saya (perempuan) yang jatuh cinta, apa yang bisa kulakukan? Kzl😌. Saingannya banyak pula, pada agresif pula. Apalah dayaku *fansbaper

Senin, 03 April 2017

Lari

Bagi orang introvert sepertiku, melakukan banyak hal sendiri memang menyenangkan, tapi ada kalanya butuh melakukan banyak hal bersama orang lain agar lebih mudah dan ringan. Sayangnya, aku terlalu sering dengan pedenya menghadapi apapun sendirian. Aku memang kuat, tapi kadang lupa dengan batasnya (kata temen sekosan sih), tapi aku tetap merasa "I can handle it, mba." Padahal aslinya belum tentu aku bisa. Ini hanya salah satu contoh bahwa aku ga mengenali diri sendiri. 
Dan minggu lalu, aku menemukan hal lain yang serupa. Selama beberapa minggu sebelumnya, aku merasa semua akan baik-baik saja dan berjalan lancar sesuai dugaan. Bener sih, emang semua baik-baik saja. Faktanya, aku tahu kalau aku melakukan hal yang benar, tapi aku justru marah karena aku terpaksa melakukannya. Ini akan cukup berat jika kupikul sendiri. Aku tau kalau semuanya akan lebih baik jika aku cerita kepada temanku. Tapi aku tidak melakukannya. Seperti yang kubilang, aku terlalu pede menghadapi apapun sendiri. Hingga suatu saat nanti, yang bisa kulakukan hanya berlari. Semoga saja aku kembali dan mampu menghadapi.
Dear God!
*acakacakrambut 




Kamis, 16 Februari 2017

Catatan Setahun Kerja

Bulan depan, tepat 1 tahun saya kembali ke Jakarta setelah 6 bulan 2 minggu bertugas di Cabang Palembang. Sampai hari ini, banyak yang bilang kerjaan saya asyik-asyik dan enak-enak aja. Saya memaklumi dan banyak menyetujui pendapat mereka. Sebagai marketing and sales yang sebenernya tugasnya customer relation, pekerjaan ini memang membahagiakan dibandingkan pekerjaan tim lain di bisnis unit yang sama. Jadi, kalau saya bilang stress karena pekerjaan banyak yang gak percaya. Dan sesungguhnya, semua problem yang membuat stress bisa diatasi dalam waktu singkat. Paling lama hanya 3 hari dan itu sampai membuat saya males ngantor.

Menilik setahun kebelakang, kerjaan semenyebalkan apapun bisa diatasi, justru challenge bagi saya hingga saat ini adalah team management. Dari total 11 tim customer sevices, secara de jure saya hanya membawahi 2,5 orang Account Officer (AO) dari total 4 AO. Tetapi secara de facto, ke 4 AO dan 7 CS lainnya berada dibawah saya. Jangankan developing others (salah satu KPI saya), manage dan mendekati mereka saja saya masih belajar.

Berbeda dengan saat berada di kampus, kita bisa memilih teman, bisa memilih tim di organisasi, dan bisa memilih rekan kerja. Saya jadi ingat quotes seseorang, “Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan bekerja.” Begitulah, tim saya taken for granted, sudah ada  dari sononya, saya tinggal terima jadi dan melanjutkan.

Saya hanyalah junior, baru join, belum hafal sistem, lalu ujug-ujug datang dengan posisi lebih tinggi. Sedangkan mereka semua senior (paling baru sudah bekerja selama 6 tahun), lelaki (entah kenapa ini mempengaruhi menurut saya), sudah hafal sistem, proses kerja sudah diluar kepala, handling complain customer lebih cepet karena jam terbang tinggi, tapi ada yang punya penyakit jantung, bahkan ada satu orang yang usianya sudah kepala 5. Bisa dibayangkan kalau ada flow pekerjaan yang harus berubah, saya harus bisa membuat mereka menyesuaikan ritme tim dari pemuda 28 tahun sampai bapak-bapak usia 52 tahun.

Ada yang separuh baya, orangnya inisiatif dan cekatan tetapi nyebelinnya masyaAllah, ngomongnya jutek, galak dan semaunya sendiri. Ga jarang, bukannya dilayani dengan baik justru customerku diomelin sama masnya ini. Dia tau gak sih kalau aku berusaha banget menjaga customer dan principal supaya satisfy dengan service yang ditawarkan, lha dianya malah ngomelin customer. Kesel ih. Apalagi kalau ngomong sama dia, bawaannya bête dan pengen ngomelin. Tapi belum sempet ngomel, dia duluan yang ngomelin aku ToT. Maunya, saya bisa santai menghadapi masnya sama seperti menghadapi yang lainnya, nyatanya, sampe siang tadi saya sempet bête dan tak tinggal pergi.

Dulu, demi bergaul dan dekat dengan mereka, saya menjadi perokok pasif. Berusaha untuk bernapas biasa tanpa batuk batuk saat duduk istirahat bareng. Setelah mulai kenal, saya mulai ngibas-ngibasin tangan kalau asapnya mengarah ke saya, kalau udah gitu mereka otomatis pindah duduk meskipun ga jauh. Kadang saya ngoceh dikit sambil bercanda. Karena saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, jadi saya yang berusaha menyesuaikan diri. Beginilah nasib junior.

Sudah satu tahun, saya masih belum menemukan formula yang tepat untuk beberapa orang di tim ini dan saya masih belajar untuk bekerja dengan baik bersama mereka. 
Menjadi partner yang bukan menambah beban, tetapi meringankan beban mereka. Lari kecil bareng buat ngejar target revenue sambil ngopi dan nge jus.  
Nyatanya, ini semua challenge banget, padahal urusan gitu doang :3



Senin, 16 Januari 2017

Dear My (Future) Husband

Dear My (Future) Husband,

Kalau ditanya tentang apa yang paling membuatku penasaran di dunia ini, jawabannya adalah kamu.

Aku penasaran bagaimana wajahmu, setebal apa alismu, seteduh apa tatapanmu, sehangat apa genggamanmu, senyaman apa dekapanmu, selembut apa kecupanmu, dan bagaimana rasanya bersandar di bahumu. Aku penasaran sebanyak apa kesabaran yang kamu punya untuk menghadapiku.

Aku penasaran apa yang kurasakan ketika suatu hari nanti melihatmu menjabat tangan ayah untuk mengucapkan ijab kabul atas namaku, ketika suatu hari nanti aku berbagi ranjang denganmu, ketika suatu hari nanti aku mengandung dan melahirkan buah hatimu. Aku penasaran apa yang kurasakan ketika suatu hari nanti identitasku secara personal luntur, terganti dengan identitas baru, sebagai istri serta ibu dari putra-putrimu.

Selain itu, aku penasaran apa pekerjaanmu. Apa kamu bekerja di tempat yang sangat jauh hingga aku harus menahan rindu karena kita terpisah oleh jarak untuk sementara waktu. Atau mungkin pekerjaanmu akan menuntut konsentrasi penuh hingga adakalanya aku dan anak-anak merasa diacuhkan atau tidak dipedulikan. Atau mungkin juga kamu akan bekerja dari pagi sampai sore dan tidak jarang lembur sampai malam hingga tidak banyak waktumu yang tersisa untuk keluarga.

Lalu aku penasaran apa aku bisa meredakan amarahmu. Apa aku bisa membuat makanan yang lezat untukmu. Apa aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu. Apa aku bisa sabar dan kuat untuk selalu mendampingimu tanpa pernah merasa jenuh. Apa aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilku.

Aku juga penasaran seperti apa wajah anak-anak kita. Setampan apa jagoanmu. Semanis apa putri kecilku. Oh iya, kira-kira ada berapa ya jumlah mereka? Apa nanti rumah kita akan diwarnai oleh tawa dari tiga anak laki-laki yang sedang menjahili adik bungsu perempuannya? Aku sunggguh penasaran dengan semua itu.

Membaca ulang tulisan di atas sepertinya rasa penasaranku terlalu jauh. Harusnya aku mendahulukan rasa penasaran yang terdekat.

Aku penasaran siapa namamu. Kamu yang sudah dipersiapkan Tuhan untuk menjadi imamku.

Love,
Your (Future) Wife


Notes:
Tulisan favorit saya dari dulu sampai hari ini yang ditulis oleh Raudha -teman sekelas saat kuliah- (http://raudhasalsabila.blogspot.co.id/2014/02/day-23-dear-my-future-husband_23.html)

Senin, 09 Januari 2017

Obrolan Siang

Dari sekian ribu cara yang dilakukan ibu untuk mendidik saya menjadi wanita seperti saat ini, setelah lebih dari 24 tahun, baru dititik ini saya menyadari kepercayaannya ada di posisi mana.

Tumben-tumbennya, di jam istirahat HP saya berdering bunyi panggilan masuk. Jarang-jarang ada yang menelpon saya melalui nomor tersebut selain VIP customer atau keluarga. Ternyata telepon dari ibu. Seharusnya sesuatu yang penting karena tidak biasa ibu menelpon di jam kerja. Ku telpon balik beliau.
Telpon yang cukup penting yang harus saya hadapi. Beliau memaparkan banyak hal, bicara banyak hal, menyampaikan banyak hal, saya hanya diam ditemani hujan yang baru turun dan tumben turun ditengah terik. Setelahnya, saya menjawab pertanyaan dan memberikan argumen seperlunya tetapi detail.
Pada penghujung obrolan itu, ibu mengakhiri penjabarannya dengan statement yang cukup membuat saya berontak tapi sendu, mengartikannya pada banyak hal. Dari sekian ribu cara yang dilakukan ibu untuk mendidik saya menjadi wanita seperti saat ini, setelah lebih dari 24 tahun, baru dititik ini saya menyadari kepercayaannya ada di posisi mana. Semua itu, diluar masalah yang sedang kami perbincangkan.