Kamis, 27 Februari 2014

Harian Fi


Dua hari yang lalu dia duduk disampingku. Menatap ujung langit di bukit Tebu. Ia bentangkan tangannya, lalu menarik nafas.

Aku menatapnya lalu bertanya, “Cinta seperti apa yang kau inginkan dimasa depan?”
Ia diam saja, kurasa dia sedang memikirkan jawabannya. Lalu ia menempelkan tangannya ke telapak tanganku. Matahari hampir tenggelam, ia tak berbicara sedikitpun. Aku suka caranya menjawab pertanyaanku. Tanpa bicara, diam, tapi ia menjawabnya dengan begitu anggun melalui nonverbal. Tatapannya teduh, meneduhkan aku dan hatiku. Diamnya membuatku semakin tergila-gila.

Suatu hari, saat aku berjalan dipasar dengannya, aku bercerita panjang lebar tentang rencanaku membuka butik bersama Nadya. Hampir dua jam aku menceritakan secara detail butik impianku bersama Nadya. Akan kami beri nama apa. Bagaimana kami membangunnya bersama. Ruko mana yang akan kami pakai sebagai butik. Bagaimana konsep interior dan penataannya.

Dan aku berhasil membuatnya tersenyu, senyum terhebat yang pernah kuterima. Seakan ia mengatakan, “Aku bangga padamu, Fi.” Padahal ia hanya menatapku, lalu menggenggam tanganku semakin erat. Belakangan, aku tahu bahwa ia sibuk bolak-balik berkumpul bersama rekannya membahas bisnis baru. Bisnis baru, butik yang aku bicarakan padanya. 

Lalu apa jawabnya, “Biarkan aku bisa memberimu advice saat kamu membutuhkannya.” Tak ada yang bisa lagi aku perbuat selain semakin mencintainya.

Di Bukit Tebu, aku menceritakan bagaimana aku ingin hidup dimasa depan. Aku menginginkan hidup di kota yang tak begitu ramai. Menempati sebuah rumah tak begitu besar cukup untuk dua anak laki-laki dan satu perempuan. Menikmati masa-masa usia baya berdua dengan bisnis yang stabil. Ia memiliki banyak bisnis, sedangkan aku menggarap bisnis butik. Saat ia bangun tidur dan bersiap-siap pergi, aku sudah menyiapkan sarapan untuknya. Sarapan yang kubuat sendiri. Indahnya masadepanku.

Aku berharap, ia menceritakan sedikit apa yang diinginkannya dimasa depan nanti. “Kamulah masadepanku.” Ucapnya sebelum aku mengakhiri ceritaku. Ia selalu bisa membuatku speechless. Tapi aku tenang. Semakin tenang ketika mendengar ia mengulangi kalimat itu.

Sekarang, aku tahu apa arti kalimat “Kamulah masadepanku!” yang membuatku teduh saat melihatnya. Akhirnya ia mengatakan “Will you marry me?” setelah kalimat itu.

“Ya, I will!” jawabku.


Sayangnya, aku menyesali jawaban itu. Hari ini, ia resmi bercerai dengan istrinya di pengadilan agama.

Pening, dikepalaku hanya terpikir, lelaki yang begitu teduh, lelaki masadepanku menceraikan istrinya untuk menikahiku.


Dihari yang lain, tak kusangka wanita yang sedang duduk di pengadilan itu adalah aku. Menghadapi perceraian dengan lelaki teduh, lelaki masadepanku.

Nima

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar disini :)