Kamis, 13 Februari 2014

Don't judge the book by the cover and paper


Sebelumnya, pembahasan ini akan cukup panjang. Kalau ga sempet baca, boleh baca konklusinya saja X.X

Saya cukup paham, bahwa tak sedikit mahasiswa yang tidak begitu menyukai mahasiswa yang menerima beasiswa apalagi beasiswa dari pemerintah sejenis bidik misi (beasiswa pendidikan miskin dan prestasi). Banyak alasannya, salah satunya yang barusan saya baca adalah karena banyak anak bidikmisi yang lompat strata. Yang seharusnya statusnya “miskin” tetapi menjadi kelas “menengah” (tentusaja kelas menengahnya kampus di fakultas penulis artikel tersebut) karena menggunakan uang negara sebesar Rp 600.000 (biaya hidup mahasiswa bidikmisi) dengan membelanjakannya sehingga dia menyebut mahasiswa yang demikian sebagai koruptor. Belanja yang dimaksud adalah membeli baju, tas, sepatu dan lain sebagainya. Bahkan menggunakannya untuk beli android, bb, tablet, dan lain sebagainya. Sayang, laptop belum disebutkan (menurut saya laptop lebih mahal drpada android, bb, tablet, dkk dan hampir semua penerima bidikmisi menurut saya punya laptop).


Kenyataannya, memang tidak sedikit mahasiswa bidik misi yang banyak berasal dr keluarga cukup mampu untuk membiayai kuliah dan selebihnya terlihat mahasiswa biasa.
Asumsi saya terhadap mahasiswa lain yang beranggapan seperti hal itu adalah antara lain:
1.       Asumsi baik:
a.       Mahasiswa penerima bidikmisi (BM) yang dianggap koruptor karena menggunakan uang negara (red=uang rakyat) adalah karena tidak menggunakannya dengan bijak.
b.      Penerima BM dianggap konsumtif, lebih konsumtif drpd mahasiswa bukan penerima Beasiwa.
c.       Barang yang dibeli penerima BM atau penerima uang rakyat seharusnya cukup membeli barang yang dibutuhkan. Boleh mahal, tapi yang benar-benar penting. Misalnya, laptop memang lebih mahal dari pada android sejuta, tetapi sangat bermanfaat untuk kuliah dibanding android.
d.      Banyak penerima BM yang seharusnya tidak menerima BM karena orang tua masih mampu memberinya uang saku maupun uang kuliah meskipun sedikit.
e.      Tak sedikit penerima BM yang berasal dari keluarga kaya (tetapi sudah tidak punya orang tua ataupun salah satu diantara keduanya meninggal, atau pensiunan keduanya tak mampu membayari kuliah, atau kaya yang hampir bangkrut).
f.        Penerima BM tapi gayanya seperti pengusaha triliunan atau pewaris tahta kerajaan. (sebenarnya teman saya tak sedikit yang berwirausaha dan tajir dari sana, bisa jadi salah satunya penerima BM)
g.       Seharusnya bersyukur bisa kuliah dan hidup dibiayai negara, bukannya foya-foya dengan uang itu. (Demi apa, saya sangat senang dengan asumsi ini).
h.      Kebiasaan mental miskin adalah sedikit saja punya uang, maka bagaimana membelanjakannya. Kalau duit abis beasiswa telat, nangis darah sambil nanya “kapan beasiswa cair?” seolah gak bisa hidup lagi bulan depan. “Bego, sih! Duit tuh dihabiskan untuk ditabung!” kata mahasiswa bermental kaya untuk masa depan. Semacam peribahasa muda menabung tua beruntung *ehh,
2.       Asumsi tidak boleh ditiru:
a.       Penerima BM tidak boleh membeli baju, sepatu, tas, hape, dan segala jenis barang yang TIDAK berhubungan dengan kuliah/kampus. Itu uang negara woe! Korupsi namanya!
b.      Penerima BM dilarang tampil seperti kelas “menengah” nya mahasiswa. (kalo high class boleh dong ya).
c.       Dilarang pake barang mahal! Mahasiswa lain saja sederhana, masak penerima BM barangnya mahal-mahal.
Lalu kata anak BM, “dont judge the book by the cover! Pake barang mewah belum tentu barang mahal”
Iya lho, sekarang banyak KW hahaha.
d.      Harus kudu wajib mesti selalu tampil sederhana apa adanya kalo perlu ya semacam orang miskin gitu.

Empat orang teman dekat saya  penerima BM, secara finansial memang tidak mampu membiayai kuliah.  Physically, menurut saya mereka biasa hidup berkecukupan.  Gadget bukan saya jadikan parameter, karena harganya menurut saya banyak smartphone didesain untuk sejuta umat. Saya melihatnya dari gaya hidup. Bagaimana dia membelanjakan uang semesteran (bukan lagi bulanan karena turunnya di akhir semester) untuk makan sehari-hari dan bagaimana cara dia bermain dan bergaul. Hal inilah yang saya jadikan parameter karena kampus (fakultasnya terutama) tempat saya kuliah gengsinya jauh lebih tinggi dibanding kampus penulis artikel sebelumnya. Kalau gak percaya boleh disurvei ke kampus saya >.<

Hasilnya, dua teman saya penerima BM adalah mantan model ketika di jenjang sekolah sebelum kuliah. Wajar ketika dia berpakaian dan cara berdandannya good looking bet. Dua sisanya juga good looking. Yang satu (orang ketiga), dia tipe pembelanja tapi berhasil mendapatkan uang dari banyak hal, tapi bukan dari orang tuanya. SEJAK KECIL. Yang terakhir, si D ini berasal dr keluarga biasa. Aslinya sederhana, tapi secara tampilan macam orang kelas middle up demikian dengan caranya membelanjakan.

Kalian tahu, orang terakhir ini, meskipun gaya hidupnya middle up dengan uang negara, prestasinya luar biasa. Menjuarai banyak hal, menurut saya, ia punya uang lebih dari hadiah lomba yang dia ikuti. Orang yang nomor tiga, teman dekat saya sejak maba, teman seperjuangan di kelas ini hidupnya hugh class. Hidupnya ia sendiri yang membiayai. Sebelum kuliah ia menggantungkan hidupnya sehari-hari dari teman-temannya yang dimanfaatkan uangnya. Saat kuliah, ia mati-matian cari beasiswa dan membuka bisnis online yang sekarang sedang happening. Bayangkan saja, anak kecil mana yang ditinggak kakak mama dan bapaknya hidup sendiri sampai bisa kuliah dengan usaha pribadi. Saya sendiri mungkin gak bisa sesemangat itu. Sekarang, bisnis jalan, beasiswa dapat. Boleh dong beasiswa untuk dimanfaatkan? Dibelakang itu, uang bisnisnya untuk membiayai anaknya. Ya, dia sudah menikah dan punya anak. Siapa sangka?

Lalu, dua model terakhir penerima BM. Saya sendiri heran bagaimana bisa dua model sekaliber mereka menerima beasiswa pendidikan miskin dan berprestasi? Ini yang sangat saya sayangkan. Melihat keduanya dari latar belakang. Yang satu model yang sudah mewakili Indonesia ke Cheko, yang satunya tingkat provinsi. Keduanya adalah Miss Deaf (diffabel / different abbilities). Keduanya tuna rungu dan tuna wicara. Siapa sangka itulah prestasi mereka, memiliki keterbatasan tetapi berprestasi luar biasa.

Lalu, dengan latar belakang mereka, dengan gelar Miss deaf, berdandan dan berpenampilan good looking adalah salah satu abilitas yang bisa mereka lakukan. Apakah ini tak cukup membuktikan effort mereka dibalik kehidupan sehari-hari?

Saya rasa kita tak boleh menilai warna kulit orang, tapi kita sendiri sudah memaknai warna kulit. Saya rasa kita sendiri yang mengatakan don’t judge the book by its cover, tapi kita membuat peribahasa yang fenomenanya sudah terjadi.

Saran saya, iya. Jangan menilai penerima BM hanya dari tampilan luar, dont judge the book by the cover and its paper. Bisa jadi novel dengan kertas putih lebih murah drpada kertas buram. Tak semua kualitas bagus itu kasat mata. Bisa jadi, cover novel itu terlihat bagus dan mahal karena dibalik pembuatannya ada usaha dan seribu bisnis didalam isinya.

Pesan saya, kepada penerima BM, Tuhan itu menurunkan ujian dalam dua bentuk. Nikmat dan cobaan. Ujian yang sedang tuhan berikan kepada penerima BM adalah ujian nikmat. Maka dari itu, gunakan uang rakyat yang telah diamanatkan pada kalian dengan baik. Caranya? Bersyukurlah! Perkara pemerintah menyalahgunakan uang BM dengan mengendapkannya terlebih dahulu, itu dosa pemerintah atas penyelewengan yang di lakukan.

Siapa sih yang mau salah dan disalahkan? Biarlah yang lain yang salah, jangan sampai kita salah karena langkah kita sendiri.

Tulisan ini juga untuk mengingatkan saya yang belum bijak menggunakan uang rakyat. Terimakasih penulis artikel sebelumnya, ini juga salah satu pengingat saya agar bijak.

Anggaplah asumsi ini hanya becandaan heheh........

1 komentar:

  1. wah lumayan panjang juga ya kak artikl nya hehehe :D
    langsung baca kesimpulan nya aja saya ;)

    BalasHapus

Silakan berkomentar disini :)