Sabtu, 29 Oktober 2011

Surat Sahabat


Sepuluh tahun yang lalu Fira berdiri di sini dengan pandangan kosong menatap teman-temannya yang berisik berceloteh dengan teman lainnya, sedangkan ia, hanya berdiri diam. Sedikit ada rasa malu saat itu, hampir setiap hari apa yang ia lakukan selalu sama. Berdiri di depan gerbang SD sedirian tak tahu apa yang ditunggu. Tapi suatu hari ada sebuah keajaiban menghampirinya sepulang sekolah.
“Rumahmu mana?” seorang gadis dari kelas 5C yang sering ia lihat di balkon bertanya.
“Blok D.” Jawab Fira singkat kala itu.
“Aku di Blok F, ayo jalan bareng!”
Tanpa berpikir, Fira mangikuti langkah teman barunya untuk yang pertama kali. Lalu berlanjutlah adegan adegan yang sama di setiap harinya. Fira menunggu Rachma di depan gerbang untuk pulang bersama. Begitulah awal persahabatan itu tercipta.
Lalu sekarang ia kembali berdiri di sana menunggu seseorang untuk datang sambil menyanyikan lagu persahabatannya,
Senin Aku menunggu
Selasa akupun masih menunggu         
Untuk melihat apa kau baik-baik saja
Rabu kau masih tak disini
Tidak peduli pagi ini atau nanti
Kamis juga masih kosong
Jumat, Sabtu atau Minggu
Setiap hari aku ridukan dirimu
Tidak seharipun kau kembali seperti hari yang lalu
Meskipun ia tahu, orang itu tak akan datang kesana. Karena sekarang gilirannya menghampiri Rachma. Sahabat kecilnya yang setia mengirim pesan, setia memberi motivasi di hari Sabtu. Ia merindukannya. Takkan terobati kalau hanya berbincang lewat telpon atau sms. Tak akan terobati sebelum keduanya bertemu. Tapi jeruji sudah mengungkung keduanya dalam sangkar pekerjaan masing-masing. Kuliah dulu, keduanya masih sering bertemu, dan yang terakhir adalah dua tahun lalu.
“Triiitttt….” Suara HP Fira berbunyi, sebuah e-mail masuk dari orang yang dinantinya. Ia segera pulang dan membukanya.
Surat balasan.
“Dear, Meskipun bos tak mengerjakan apapun, dia supervisormu, anggap saja ini sebuah keuntungan bagimu. Kenapa? Karena kamu jadi belajar mandiri, bagaimana menyelesaikan proyek yang urgent itu tepat waktu. Dan kamu jadi lebih paham proyek itu daripara atasanmu sendiri. Anggaplah itu sebagai batu loncatan untuk menunjukkan pada manager bahwa kau pantas di promosikan. Tapi, Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan oleh negara padamu, tapi tanyakan apa yang bisa kau berikan kepada negaramu [1] Percayalah, Allah memang tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah member apa yang kita butuhkan.”
Satu-satunya yang aneh dari e-mail itu adalah kata-katanya. “Aku jelas paham bagaimana bentuk dan olahan bahasanya, ini bukan e-mail balasan darinya. Dia tak pernah memanggilku dear, pasti ia memanggilku Cableng.” Gumam Fira. Ia mengambil HP nya dan menelpon Rachma. Tapi sayang, panggilannya selalu dialihkan. Ia menelpon nomor rumah Rachma dan dijawab Ibunya.
“Rachma beberapa minggu ini sakit-sakitan. Sekarang dirumah sakit. Maaf, tadi tante yang balas E-mailnya, sebenarnya sejak 2 minggu yang lalu tante yang balas, Fir.”
“Dua minggu yang lalu?” dan baru hari ini aku sadar? Batinnya.
“Iya, maaf ya, dia yang meminta tante. Dia tak ingin membuatmu khawatir….”
“Oh, gak papa tante. Dirumah sakit mana?”
“RSKUA”
Fira tak ingat apapun kecuali satuhal ketika tahu Rachma sakit. Masa awal kuliah ketika di Kos tak ada orang karena weekend teman-teman kos Fira pulang kampung, tipusnya kambuh dan tak ada yang merawatnya. Saat itu, ia merasa tak mampu melindungi dirinya sendiri. Ia hanya mampu menangisi keadaannya yang memburuk. Ia tak bisa menghubungi dokter maupun ibu kos yang di rumah sebelah. Namun, hanya karena feeling, Rachma berangkat dari Surabaya ke Jogja untuk menemui Fira dan menemukan Fira di kamar dengan wajah pucat dan tak sadar. Dipanggilnya seorang dokter dan meminta obat.
Fira sangat ingat senyum Rachma ketika mengompres dahinya dengan air panas jam 1 malam dan membelikan bubur ayam pagi-pagi. 3 hari ia korbankan kuliahnya untuk merawat Fira di kamar.
“Aku akan disini bersamamu sampai besok dan besoknya lagi dan lagi dan lagi hingga kita bisa berjalan bersama, mengubah dunia seperti mimpi kita.”
Ia memang setengah sadar saat itu, tapi ia tahu betul sebelum mengganti kompresnya Rachma selalu shalat tahajud dan berdo’a di sujud terakhirnya. Satu malam terakhir Fira mendengar do’anya,
‘Ya Allah, sembuhkan Fira. Berilah dia nikmat sehatmu setiap hari, sembuhkanlah ia besok pagi agar tercapai cita-cita kecilnya. Jangan kau beri dia sakit sedangkan kau tak pernah memberikannya pada hamba. Biarkanlah kami berjalan bersama seperti biasanya. Amin.’
Paginya, aku benar-benar melihat keajaiban, aku sudah bisa berbicara banyak dengannya dan menonton film bareng dengannya meskipun perutku masih sakit. Ia membelikanku sarapan tiap pagi, makan siang dan makan malam. Aku menyuruhnya untuk kembali ke Surabaya, tapi ia enggan. Ia tak percaya pada teman-teman kosku akan merawatku se ekslusif ia merawatku.
Hari terakhir sebelum ia pulang hari Rabu itu, ia bilang, “Aku ingin kau merawatku seperti aku merawatmu ketika aku sakit.”
“For God Sake! Aku takkan memaafkan diriku jika ia benar-benar menderita selama dua minggu sedangkan aku tak ada untuk merawatnya.” Gumamnya dalam perjalanan ke Terminal Tiket. Tak peduli dengan pekerjaan dan apapun, aku akan menepati janjiku, Ma!
“Mbak, tiket pesawat ke Surabaya hari ini masih?”
“Masih, untuk nanti jam berapa?”
“Secepatnya mbak.”
Take off jam 12.34? atau jam 14.15?”
“Jam 12.34!” ucapnya tegas. Tunggu aku, Ma. Aku segera datang.
Fira langsung menuju Airport dan menunjukkan tiketnya. Tapi keberangkatan pesawat delay hampir dua jam. Ia menunggu dengan cemas di sudut ruang tunggu sambil menyanyikan lagu persahabatan mereka,
…..
Di hari aku bertemu denganmu
Hari dimana aku ingin dekat denganmu
Hari dimana kita saling bepegangan tangan
Hari dimana aku mencintaimu
Hari dimana aku bicara denganmu
Hari dimana kau mendengarkanku
Berapa lama lagi akan begini?
Aku tidak tahu
Berapa banyak bulan atau tahun?
Berapa jutaan memori masa lalu?
Aku selalu merindukanmu.

Aku akan menepati janjiku, tunggulah aku!
Setelah landing Fira langsung mencari taksi dan memintanya menuju RSKUA Jogja. Tapi sampai di daerah antah berantah yang tak ia tahu namanya, dimana tak ada tak ada taksi maupun bus lewat, tiba-tiba taksi berhenti.
“Mbak, kalo panjenengan mau saya antar sampai RSKUA bayar 250 ribu. Tapi kalo panjenengan gak mau, silakan turun dan tunggu di kuburan itu sampai ada taksi kosong lewat!”
Jantung Fira langsung melaju cepat. Ia tak menyangka malah akan menerima musibah begituan. Kalau ia bayar, jelas ia tak punya uang lebih untuk pulang nanti. Tapi kalau tak dituruti, ia bisa mati kaku di atas kuburan orang disana. Tak ada rumah penduduk, tak ada bus lewat dan hari sebentar lagi gelap. “Wah, bapak sopir taksi ini benar-benar matre. Gak tahu apa kalau orang yang berurusan dengan rumah sakit itu mesti lagi butuh banyak duit?” gerutunya dalam hati.
“Gimana mbak?”
Fira menarik nafas panjang, “Ahahahahh, itu sih gampang pak! Yang penting antar saya sampai ke RSKUA, teman saya sangat butuh saya.”
Lantas si sopir taksi nyengir dan memicingkan matanya pada Fira.
Fira masih memikirkan bagaimana caranya agar ia tak membayar sebanyak itu. Ia biasa bayar taksi 40 – 50 ribu sekali jalan di Jogja, seharusnya di Surabaya tak beda jauh. “Ya Allah, cobaan apalagi ini?”
Sampai di rumah sakit Fira keluar dari taksi dan membayarnya dengan uang limapuluh ribu.
“Lho, mbak. Mbak bego apa goblog sih? Dua ratus limapuluh ribu! Bukan limapuluh ribu!!!”
Sengaja Fira keluar supaya tak dikunci didalam taksi dan bisa kabur bila si sopir mulai berbuat aneh. “Saya biasanya bayar segitu pak, toh di Argo Cuma 37 ribu. Bapak masih untung banyak kan.”
“Pokoknya harus bayar 250 ribu atau…” sopir mulai memanas.
“Atau saya laporkan satpam atas pemerasan?” Fira langsung berbalik dan lari mencari bagian informasi. Ia masih bisa mendengar Sopir taksi mengeluarkan segala kata-kata kebun binatang dari mulutnya.
Kamar 1 B, lorong sebelah belok kiri, lurus dan belok kanan.Aku datang Ma.
“Ini dia. Assalamualaikum.” Fira terhenti di depan pintu. Ia memutar matanya melihat sekeliling dan melihat kenyataan. Matanya mengernyit dan meneteskan air mata. Pelukan hangat yang terakhir dilakukannya pada sahabatnya dua tahun lalu itu kini dirasakannya kembali. Namun, kini tak sehangat pelukan dan senyum mereka dulu, pelukan ini hanyalah pelukan ringkih dari tulang berlapis kulit milik Rachma. Fira benar-benar pangling dengan Rachma sekarang.
Hanya senyumnya, senyumnya yang benar-benar sepenuh hati dan ikhlas dari dalam hatinya, juga lesung pipinya yang memudar. Kulit tipis coklatnya menyamarkan segala kecantikannya yang tak tertandingi dulu.
Pie kabare?” tanyaku sambil menahan tangis melihatnya menahan getaran tangannya yang dipaksa.
“Sae…” ia kembali memberi senyum termanisnya untuk Fira. Tapi, Fira tak tahan melihat senyumnya, senyum yang bukan miliknya. Senyum yang menggetarkan hati Fira dan mencacahnya hingga hatinya yang rapuh itu tak menyangka orang yang selalu mengiriminya e-mail dan sms motivasi ternyata justru lebih membutuhkan daripadanya. “Akkuu…kangeeenn.” Jeritnya pada Fira.
Berapa lama lagi akan begini? Aku tidak tahu. Berapa banyak bulan atau tahun? Berapa jutaan memori masa lalu? Aku selalu merindukanmu!!! Kau ingat, dulu waktu pertama kali menghampiriku pertama kali didepan gerbang? Aku menunggumu disana hari ini kemarin dan lusa.”
Setiap hari aku ridukan dirimu. Tidak seharipun kau kembali seperti hari yang lalu. Akku menunggumu disini, menagih janjimu dan bertahan untukmu.” Tangannya bergetar hebat ketika menunjukku. Ia seperti seorang nenek yang tak mampu lagi menopang berat tulangnya.
Ibunya menyentuh pundak Fira dan mengajaknya keluar ruangan. Beberapa kali Fira mengangguk, ia enggan meninggalkan sahabatnya itu.
“Tante pripun kabare?
Apik cah ayu. Maaf ya, tante ndak ngabari kamu sebelumnya.”
“Iya gak papa. Seharusnya saya yang lebih peka sama keadaan. Apa mungkin saking jahatnya saya yang egois ini. Oh, maaf tadi gak ngabari kalau mau ke sini.”
“Dia menunggumu, setiap hari ia bertanya apa ada e-mail darimu? Meskipun ada, dan tante membacakannya tiap hari, ia menyuruh tante membalasnya tanpa memberitahu keadaannya. Katanya, ia tak ingin membuatmu khawatir. Ia ingin kamu menyelesaikan tugas-tugas dari bosmu tanpa beban.
“Dia sakit apa?”
“Dia kena leukemia.”
Fira menatap mata ibu Rachma dan lari menuju tempat tidur Rachma. Ia duduk disampingnya sambil memegangi tangan kurusnya.
“Aku akan disini bersamamu sampai besok dan besoknya lagi dan lagi dan lagi hingga kita bisa berjalan bersama, mengubah dunia seperti mimpi kita.”
“Janji?”
“Janji!” keduanya mengaitkan kelingking.
Hingga malampun Fira tak melepaskan genggamannya. Ia hanya meninggalkannya untuk wudhu dan shalat. Lalu ia genggam lagi tangan sahabatnya, ia menatapnya hingga subuh dan tertidur di sampingnya.
--
“Ah, pagi yang cerah.” Fira berdiri dan membuka tirai jendela setelah melihat cahaya-cahaya yang menyelinap masuk mengganggu matanya yang menghitam karena sembab dan kurang tidur.
“Seandainya setiap pagi seindah dan secerah ini, kita bisa berjalan-jalan keluar dan melihat taman-taman menghijau dengan senangnya. Berjalan bersamamu adalah kenangan tak terlupakan, berjuta-juta memori yang di otakku tentangmu takkan pernah hilang. Seberapa jauh langkah yang harus kau tempuh, aku akan selalu menemanimu. Selalu disampingmu apapun yang terjadi karena kau dan aku adalah satu tubuh.” Tetesan air mata Fira tak terbendung lagi.
Langkah-langkah suster mendekat dan mulai memasuki kamar. Mereka mendekati Rachma yang sedang tertidur.
“Mbak, mohon keluar dulu ya…” pinta suster sedikit memaksa.
Fira mendekati Rachma yang belum bangun saat suster memeriksa. Ia kembali memegang tangannya. Ada sepucuk surat tebal di tangan kiri, Fira mengambilnya dan langsung menyimpannya di Jaket. Ia menggenggam tangan Rachma, “Aku janji akan selalu bersamanya suster. Dia takkan suka kalau aku pergi satu detik saja dari kamar ini.”
“Ayo mbak keluar dulu. Kami akan berusaha sekuat kami. Mari keluar.”
“Dia Cuma tertidur! Apa kalian tak lihat? Dia sudah membaik dan tak demam seperti kemarin!” Fira sedikit teriak.
Dua orang suster menariknya supaya keluar ruangan sementara dokter memasuki ruang.
“Ayo mbak, sebentar saja.”
“Tapi dia Cuma tertidur! Tadi dia masih mengambil surat ini ketika aku buka jendela.” Fira mengeluarkan amplop dari jaketnya. “Gak! Rachma, Rachma…. Tolong aku! Mereka memisahkan kita! Dia mengambilkanku surat ini dan hanya bilang terimakasih sudah menepati janjiii!!!” Fira memberontak dan tak ingin keluar. Suster menariknya dengan kasar.
Tante dan Om hanya melihatnya menangis dan memberontak. “Tante…Om… Rachma…” ia berlutut di kaki tante dan menangis tanpa henti.
Satu dua tiga menit dokter keluar dari kamar Rachma. Ibu Rachma langsung menghampiri dokter.
“Apapun kenyataannya, kita harus terima itu Fir. Kau wanita hebat sama sepertinya.”
Fira menangis dalam duduknya. Ia memeluk kedua lututnya dan menyandarkan kepala diatasnya seolah sudah tahu jawaban dokter. Suara tangisnyapun mulai menggema dan semakin keras. Suasana pagi yang cerah menjadi bukti janjinya.
--
Buat Cableng,
Sudahlah, tujuanmu dari dulu bukanlah menjadi seorang staff yang selalu disuruh-suruh. Lalu kamu mengerjakan tugas yang seharusnya dilakukan asisten, membelikan kopi bosmu, mencarikan buku sekolah untuk anaknya, yang kau cari di kantormukan bukan kebaikan dari bosmu, apa kau lupa tujuannya? Tujuanmu adalah meraih mimpi kita yang tertunda! Tuh, aku masih simpen listnya dibelakang surat. Kau selalu tertekan dengan pekerjaanmu itu. Lebih baik kau benar-benar berhenti dan beranikanlah dirimu melangakah dua tangga lebih tinggi, mulailah karirmu sebagai sutradara! Jangan menerima uluran tangan orang yang negative thinking atau tak percaya pada mimpimu[2] seperti bosmu yang bilang, “mimpi macam apa itu? Mustahil!” keluarlah dan buatlah film kita menjadi benar-benar film yang ditonton orang banyak. Kontribusikan dirimu pada Negara. Dedikasikan Film-film mu untukku supaya kau tak lupa padaku, karena aku tak mau kau lupa. Jangan pernah takut untuk menjadi dirimu sendiri. Aku ingin kita selalu bergandeng tangan saat kau mengucap kalimat, “Camera rolling…action.”
Gapailah cita-citamu, gapailah cita-cita kita bersama, jadilah sutradara untukku dan untukmu. Bila kau punya jalan lain dan bukan inilah yang kau impikan, jalankanlah, aku akan selalu ada disampingmu untuk memberimu motivasi, seperti ketika kau memberiku motivasi saat aku selalu kalah dalam lomba. Kemenangan bukanlah segalanya, kemenangan adalah satu-satunya dan kemenangan itu bukalah sebuah hasil akhir, tapi prosesnya. Ya, karena dulu aku hanya mengejar juara 1, 2, dan 3 serta hadiahnya. Aku hanya mengejar imbalannya, lalu Allah memberiku kemenangan yang benar-benar menang, kekuatan untuk lebih berusaha dan ‘kita seharusnya menjadi luhur demi keluhuran itu sendiri.’ Tujuannya bukanlah hasil dan imbalan, tapi usaha.
Berusahalah, dan jangan lupakan aku!
--
“Gimana filmnya? Udah kamu tonton? Baguskan? Itu film ke empat yang aku dedikasikan buatmu dan keluargamu. Kemarin pas aku ke Surabaya, aku mampir ke rumahmu dan dibuatkan es cendol kesukaan kita dulu. Oh ya, sekarang giliranku yang mengirimimu sms motivasi dan menghubungimu. Setiap minggu aku akan sms dan missed call. Oh ya, rencananya management akan kerjasama dengan Monash production, kita mau menggarap film ‘We are!’ minggu depan kau akan jadi orang pertama yang tahu ceritanya! Tapi jangan beritahu siapapun, Oke? Well, selamat istirahat.
Senin Aku menunggu
Selasa akupun masih menunggu
Untuk melihat apa kau baik-baik saja
Rabu kau masih tak disini
Tidak peduli pagi ini atau nanti
Kamis juga masih kosong
Jumat, Sabtu atau Minggu
Setiap hari aku ridukan dirimu
Tidak seharipun kau kembali seperti hari yang lalu.
Send e-mail
To        : rachma_7@gmail.com
Send.
----

Room, 1004th 11
23:05


[1] John F. Kennedy
[2] The little secret that can change your life : Joann Davis

2 komentar:

  1. Guweeehh???
    Itu namanya sama kayak nama guweeeh???
    *narik bibir lebar-lebar ke bawah

    BalasHapus
  2. wkwk...kenapa emangnya kalo itu elo? bermasalah?
    cerita ini hanyalah fiktif belaka
    *kesamaan nama dan tempat merupakan ketidaksengajaan.

    BalasHapus

Silakan berkomentar disini :)