Senin, 11 November 2013

Satu Hari

Fajar
Ruang tengah sudah ramai, terbentuk lingkaran kecil ketika saya beranjak dari tempat tidur bergegas mandi. Saya pikir mereka disukusi tentang profesi, ternyata bukan. Mereka melanjutkan obrolan perkenalan selama perjalanan menuju Kota Tua yang terhenti karena terbatasnya waktu. Belum sempat saya bersiap mandi, lingkaran yang semula kecil melebar hingga memenuhi ruang tengah. Pagi itu, saya menunda mandi, untuk mendengarkan kisah hidup keluarga baru saya. Keluarga kunang-kunang. Mau mendengarkan, berarti harus mau bercerita. Secuil kisah yang saya bagikan tak sehebat kisah saudara-saudara saya. Maka pagi itu, saya mendengar kisah inspiratif dari orang-orang inspiratif disekitar saya. Menunda mandi, menunda bertemu dengan sahabat saya rasa sepadan dengan mendengarkan kisah saudara saya.
Saya yakin, kisah-kisah seperti ini tidak akan saya dapatkan kalau saya bukan bagian dari keluarga kunang-kunang. Forum Indonesia Muda lah yang mengantar saya bertemu dengan keluarga ini.



Senja
Sang senja mengantarkan saya ke Depok dan UI, mempertemukan saya dengan sahabat. Mengabarkan kebahagiaan sekaligus kesedihan. Kami kehabisan waktu, bagi saya duajam bersamanya takkan cukup menggantikan kerinduan, bahkan, cerita kami belum dimulai saat kami harus berpisah. Pertemuan kali ini butuh pengorbanan, dia sakit dan hilangnya jaket. Tuhan maha adil, Dia memberi dua cobaan agar kami mengingat pertemuan itu. Di senja yang sama, saya menorehkan kenangan baru disana.
Senja, bukankah seharusnya menjadi satu momen kebahagiaan? Beberapa kali senja selama ini, ia dua kali mengacungkan belati. Lantas, tak ada balasan yang saya berikan karena saya masih menyukai senja apapun kondisinya. Apalagi ketika matahari tenggelam di ufuk.

Teruntuk dua orang yang mengantarku, kalian lelaki hebat, saudara terkece yang pernah saya temui ._.v

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar disini :)