Sabtu, 30 November 2013

Bintang, Bunuh Aku!


28 November 2013. Saya kesepian. Banyak kegiatan, tapi tak sebanyak yang dulu saya lakukan. Jam 16.16 saat saya duduk dikamar didepan laptop sambil minum kopi seperti ini seharusnya saya di suatu tempat ngobrol dan bercanda dengan teman-teman. Ini terjadi tak hanya sekali duakali, berkali-kali dalam semester 7 ini. 6 semester lalu saya melewatinya selalu demikian. Bahkan, sering kali saya baru pulang tengah malam atau dini hari. Bukan buat clubbing, nongkrong, atau sejenisnya, selalu saja ada hal penting yang harus diselesaikan dikampus bareng temen-temen. Kalopun ngopi diluar, bagi saya obrolan kami selalu bermanfaat untuk event yang saya garap waktu itu.




Sore ini, 16.20 saya merenungi, sepertinya ini sebuah konsekuensi atas keputusan yang saya buat waktu silam. Saya menghargai dan jujur sangat mengapresiasi keberanian saya untuk mengambil keputusan itu. Gak penting sih, tapi cukup merubah hidup dan diri saya. Saat itu, pertimbangannya adalah karena kondisi saya yang menurut saya sangat parah. Seperti yang saya ceritakan dipost sebelumnya, 2 tahun saya tinggal di kontrakan jam malam jam 8. Tapi bagi saya, jam malam itu hanya fiktif, toh saya tiap hari setelah lulus dari predikat “maba” saya tetap pulang lewat dari jam itu dengan alasan organisasi. Saya gak menyalahkan diri karena banyak mbak-mbak yang begitu juga, jadi saya ngikuti mbak-mbak yang agak “nyeleweng” itu. Toh habis isya ga ada agenda kontrakan. Dikeluarkan dari kontrakan dengan cukup “tidak terhormat” saya kos di gang sebelah dan masih sekomplek dengan kontrakan. 

Menurut saya, kosan itu kosan terbaik yang pernah saya tinggali di Malang. Meskipun ga ada sinyal, tapi justru saya gak autis dengan gadget. Kosan yang kedua ini jam malamnya jam 8 juga. Kemudian kosan buka lagi jam 8.05 karena saya duplikat kuncinya (ini atas perintah ibu kos lho). Lucunya, orang-orang kontrakan ga ada yang tau kosan saya dan baru tahu hampir setahun saat saya mau pindah lagi. Lantas, satu tahun itu hari-harinya padat merayap, event gedhe, banyak undangan komunitas, ngisi radio, bolak balik ke kompas Surabaya, dsb. Entah apapun itu kegiatannya, saya sering banget pulang malem menuju dinihari. Untungnya, urusan akademik saya di semester ini membaik. Tak seburuk semester sebelumnya.

Ini kasusnya saat itu saya merasa bahwa sudah saatnya jadi wanita. Sebelumnya saya merasa bahwa saya perempuan berjiwa lelaki. Tapi saya masih keluar ngalor ngidul dan waktu saya habis untuk bersosialisasi, sedang urusan agama hanya waktu sisanya. Meskipun saat itu saya rajin sholat diawal waktu. Ini sudah urusan agama maan! Saya merasa, semakin sering saya bergaul dengan teman yang seperti itu maka kesempatan saya untuk futur bakal lebih banyak.
Bukan teman yang harus saya salahkan, tapi kemampuan tameng saya yang meragukan!
“Lebih mungkin mana? Berusaha mensterilkan semua tempat agar tak ada kuman atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?”
Intinya, saya sudah puas bahkan sudah bosan dengan kehidupan seperti itu. Saya merasa hidup sibuk event dan bersosialisasi itu sangat menyenangkan sampai saya jenuh selalu senang, aman, dan nyaman.
Lalu keluarlah keputusan. Bunyi keputusan itu kurang lebih begini, “tak adalagi pulang malam (lewat jam 9) apalagi pulang pagi.” Dan saya memilih kos dengan jam malam jam 10. Sebenarnya riskan karena dulu saya sering keluar kota dan pulang gak tentu. Apa boleh buat, saya ingin merubah sesuatu dalam diri saya.

Berangkat dari satu perubahan yang saya ambil itulah, saya merasa ada efek domino dari keputusan itu. Banyak hal lain dalam diri saya yang ingin saya rubah. Awalnya, hanya sekedar renungan karena merasa sudah salah langkah, ya meskipun dalam prosesnya saya jutru malah pengen jadi anak yang sedikit “nakal” dengan pengen pacaran (baru pengen cuii -___-“). Mungkin ini efek karena saya merasa jiwa wanita saya sudah keluar. Jujur saja, semenjak saya merasakan hal itu, saya sedikit lebih peka apalagi dengan yang namanya kisah cinta. Sebelumnya? Jangan tanya.
Lanjut, berangkat dari aksi saya yang gak mau pulang larut itu kemudian saya berusaha memperbaiki diri lagi, lebih ekstrim malah. Kali ini lebih serius, mau pake rok. Selesai statement ini keluar, banyak yang nunggu saya pake rok *cieh. Beneran ini -___-“. Cuma buat bahan bully-an sebenere :’). Sampai detik ini saya baru merealisasikannya sekali saat di FIM 15 kemarin atas paksaan temen saya.

Akhirnya, keluarlah keputusan yang lain. Saya beneran pengen jadi wanita anggun. Ga peduli lagi orang mau bilang apa. Ketauan pakai flat shoes dikampus, diketawain, ditanyain, di bilang gausah dipake lagi ato dibilang be your self! Embuh, I don’t care, porah, karepmu! Tapi sekali lagi, ini masih proses menuju kesana. Saya masih berusaha menjadi wanita anggun (dalam pikiran saya), pelan-pelan.
Saya rasa, ketika ada satu perubahan yang terjadi, maka aka nada perubahan-perubahan lain yang menyusul. Karena saya mengalaminya, saya percaya efek domino kebaikan. Memang nyata, selesai menginginkan menjadi wanita anggun, saya ingin kembali dekat dengan Allah, bagaimanapun caranya!

Dan proses ini berlangsung hingga hari ini. Dimana, saya mulai ingin merubah lifemap yang awalnya ingin kerja, kuliah, travelling, menikah, menjadi, travelling, kuliah, menikah, kerja. Dulu mungkin saya hanya bilang mulai peka dengan kisah cinta, bukan lagi kisah cinta, ada asmara dalam diri saya. Dulu saya gak punya hati, sekarangpun masih gak punya.
“Wanita adalah tulang rusuk jodohnya dan lelaki adalah hati yang akan melengkapi jiwa jodohnya.”

-------------------
Saya merasa menemukan hati saya. Ruang yang tadinya kosong itu, akhirnya akan terisi dengan hati yang selama ini hilang. Semakin saya percaya dengan kisah asmara yang tak pernah saya temukan dalam hidup saya sebelumnya, semakin saya ingin memperbaiki diri.
Saat lelaki itu bangkit, saya duduk, apapun yang dia lakukan, saya ingin mengimbanginya dan menyempurnakannya. Saya ingin menjadi orang yang paling berbeda agar saya bisa melengkapi yang tak ia punya. Saya cemburu buta karena cinta saya pun cinta buta. Apalah dikata, banyak wanita menyukai dan mengincarnya. Mulai dari yang cantik sampai yang pintar. Sedang saya hanya bisa duduk manis sambil memandangnya dari bilik jendela. Itu saja sudah membuat saya bahagia sampai hari Rabu minggu berikutnya. Selalu, rutinitas yang sama setiap Rabu. Teman yang lain, berdiri mencari gebetan masing-masing saat mereka keluar dari lab. Komputer. Gayanya, saya mengerjakan soal-soal, tapi mata melirik keluar ruangan. Sambil menunggu Nira berteriak, “Mbak Peni, Mbak Peni... cieee.” Lantas memegang dada menyembunyikan suara jantung. Detaknya cepat karena dua hal, bahagia melihatnya dan cemburu mendengar suara Nira. Teman dekat saya di kelas, menyukainya. Sinetron sekali.
5 September 2011, sudah saya bilang saya percaya bahwa sayalah tulang rusuknya dan dialah hati saya. Mau saya jadi yang pertama, tengah atau terakhir kalau jodoh tetap saja jodoh. Siang itu dia menikah. Undangannya ia sampaikan langsung, seingat saya, saya punya 6 kali detak jantung terkeras sampai terdengar telinga saya ya saat menerima undangan itu. Saya hanya terdiam, tak ada yang memperhatikan. Air mata hanya sampai di pelupuk. Saya bahagia, dia bahagia, istrinya bahagia. Istrinya akan merasakan hal yang sama saat aku menjadi istri keduanya nanti. Ya, istri kedua.
Barangkali, sudah cukup tujuh tahunnya. Sudah cukup pula delapan tahunnya. Saya terlalu buta mencintainya. Saya lupa bagaimana saya harus mencintai, saya lupa bagaimana cemburu, dan saya tak sadar bahwa hati itu sebenarnya sudah lama hilang.
Lalu sosok lelaki hanya menjadi kuman bagi saya. Tak ada yang tahu, saya pandai akting untuk hal satu ini. Sayangnya ada satu orang yang mampu mengingatkan saya bahwa show must go on. Tak mungkin saya mati hanya demi menunggu orang yang tak lagi peduli pada saya.
-------------


Saya menemukannya kembali. Menemukan hati yang hilang untuk menempati ruang kosong ini. Sayang, saat saya mulai merasa menyukai seseorang, ada benteng otomatis yang selalu menghalangi. Setiap kali sudah merasa saya menemukan hati saya yang hilang itu, saya mundur. Menjauhinya, menghentikan komunikasi, menutup semua celah. Lalu saya diam, pura-pura tak terjadi apapun. Lalu mencari kambinghitam yang bisa saya jadikan oknum, inilah orang yang saya sukai! Kali ini, saya tak ingin mencari kambing hitam.
Dan, semakin lama, saya semakin mahir menghentikan rasa. Kecuali saat menyebut namanya, dada saya tetap sesak! Saya masih mengharapkannya? TIDAK!


28-11-13

Cinta buta itu gak nikmat, benar-benar membutakan saya. Bahwa ada banyak orang lebih baik disekitar saya, dan saya tak bisa menyadari itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar disini :)