Kamis, 16 Februari 2017

Catatan Setahun Kerja

Bulan depan, tepat 1 tahun saya kembali ke Jakarta setelah 6 bulan 2 minggu bertugas di Cabang Palembang. Sampai hari ini, banyak yang bilang kerjaan saya asyik-asyik dan enak-enak aja. Saya memaklumi dan banyak menyetujui pendapat mereka. Sebagai marketing and sales yang sebenernya tugasnya customer relation, pekerjaan ini memang membahagiakan dibandingkan pekerjaan tim lain di bisnis unit yang sama. Jadi, kalau saya bilang stress karena pekerjaan banyak yang gak percaya. Dan sesungguhnya, semua problem yang membuat stress bisa diatasi dalam waktu singkat. Paling lama hanya 3 hari dan itu sampai membuat saya males ngantor.

Menilik setahun kebelakang, kerjaan semenyebalkan apapun bisa diatasi, justru challenge bagi saya hingga saat ini adalah team management. Dari total 11 tim customer sevices, secara de jure saya hanya membawahi 2,5 orang Account Officer (AO) dari total 4 AO. Tetapi secara de facto, ke 4 AO dan 7 CS lainnya berada dibawah saya. Jangankan developing others (salah satu KPI saya), manage dan mendekati mereka saja saya masih belajar.

Berbeda dengan saat berada di kampus, kita bisa memilih teman, bisa memilih tim di organisasi, dan bisa memilih rekan kerja. Saya jadi ingat quotes seseorang, “Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan bekerja.” Begitulah, tim saya taken for granted, sudah ada  dari sononya, saya tinggal terima jadi dan melanjutkan.

Saya hanyalah junior, baru join, belum hafal sistem, lalu ujug-ujug datang dengan posisi lebih tinggi. Sedangkan mereka semua senior (paling baru sudah bekerja selama 6 tahun), lelaki (entah kenapa ini mempengaruhi menurut saya), sudah hafal sistem, proses kerja sudah diluar kepala, handling complain customer lebih cepet karena jam terbang tinggi, tapi ada yang punya penyakit jantung, bahkan ada satu orang yang usianya sudah kepala 5. Bisa dibayangkan kalau ada flow pekerjaan yang harus berubah, saya harus bisa membuat mereka menyesuaikan ritme tim dari pemuda 28 tahun sampai bapak-bapak usia 52 tahun.

Ada yang separuh baya, orangnya inisiatif dan cekatan tetapi nyebelinnya masyaAllah, ngomongnya jutek, galak dan semaunya sendiri. Ga jarang, bukannya dilayani dengan baik justru customerku diomelin sama masnya ini. Dia tau gak sih kalau aku berusaha banget menjaga customer dan principal supaya satisfy dengan service yang ditawarkan, lha dianya malah ngomelin customer. Kesel ih. Apalagi kalau ngomong sama dia, bawaannya bĂȘte dan pengen ngomelin. Tapi belum sempet ngomel, dia duluan yang ngomelin aku ToT. Maunya, saya bisa santai menghadapi masnya sama seperti menghadapi yang lainnya, nyatanya, sampe siang tadi saya sempet bĂȘte dan tak tinggal pergi.

Dulu, demi bergaul dan dekat dengan mereka, saya menjadi perokok pasif. Berusaha untuk bernapas biasa tanpa batuk batuk saat duduk istirahat bareng. Setelah mulai kenal, saya mulai ngibas-ngibasin tangan kalau asapnya mengarah ke saya, kalau udah gitu mereka otomatis pindah duduk meskipun ga jauh. Kadang saya ngoceh dikit sambil bercanda. Karena saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, jadi saya yang berusaha menyesuaikan diri. Beginilah nasib junior.

Sudah satu tahun, saya masih belum menemukan formula yang tepat untuk beberapa orang di tim ini dan saya masih belajar untuk bekerja dengan baik bersama mereka. 
Menjadi partner yang bukan menambah beban, tetapi meringankan beban mereka. Lari kecil bareng buat ngejar target revenue sambil ngopi dan nge jus.  
Nyatanya, ini semua challenge banget, padahal urusan gitu doang :3



0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar disini :)