Jumat, 16 November 2012

Suhu Kampus di November-Desember


10 November 2012

Hari ini memang hari pahlawan, tetapi di bulan ini bukan hanya menjadi bulan perjuangan para pahlawan tetapi juga menjadi bulan perjuangan bagi para aktivis. Kenapa demikian? Karena ternyata bulan Desember adalah bulan Pemilihan, baik pemilihan raya Universitas maupun pemilihan mahasiswa tingkat fakultas. Karena itulah saya menyebutnya dengan bulan perjuangan.
Kalau katanya mahasiswa, para aktivis politik kampus sedang  sibuk mempersiapkan strategi pemenangan dan calon, saya justru sibuk mempersiapkan diri untuk segera melarikan diri dari aktivitas itu. Kalau bisa dan kalau saja Allah mengijinkan, rasanya saya pengen menskip bulan November dan desember. Dua bulan inilah bulan-bulan yang paling aaww suppeerrr, #AlaFranky. Entah sejak hari apa tanggal berapa bulan apa, saya menjadi sangat amat sensi sekali dengan yang namanya politik kampus.


Ya, sejarahnya jelas, yakni ketika saya menjadi panitia pemilwa dan sedikit banyak paham tentang permusuhan yang terjadi. Dan tolong di beri tanda merah, di capslock juga boleh, yang saya pahami saat itu adalah tentang permusuhan yang terjadi. Dua bulan bayangkan, saya merasakan permusuhan dengan teman-teman saya, bahkan dengan teman terdekat saya. Tahun lalu sudah pernah saya posting juga tentang keadaan saya dan teman saya yangterjadi ketika Pemilwa berlangsung. Mungkin semenjak itulah, saya sangat malas dan tidak ingin melewati dua bulan ini, apalagi mendengar urusan politik.

Benar kata salah seorang teman saya di twitter tadi, tapi saya lupa yang posting siapa, bahwa semua orang bisa jadi pahlawan. Meskipun saya bukan pahlawan, tetapi selama 2 bulan itu saya benar-benar berjuang tanpa seseorang yang mendampingi saya menyelesaikan beberapa masalah. Bahkan tempat untuk bercerita tentang kesedihan saya selama menjadi panitia.

Tekanannya sungguh luar biasa karena saya merasa dipermainkan juga waktu itu. Dan ujung dari perjuangan saya yang bertahan selama dua bulan buktinya adalah, saya masih hidup sampai sekarang hahahahaa...
Maka di bulan ini, dan bulan kedepannya hingga saya berhasil melarikan diri dari tekanan-tekanan tertentu, saya benar-benar membenci orang-orang yang berusaha menghancurkan kembali pertemanan yang sudah saya perbaiki kembali. Sebenarnya sayaa tidak ingin menambah daftar nama orang yang saya benci, tetapi mesti adaaaa aja orang yang membuat saya benar-benar jengkel.

Bahkan, yang lebih menyakitkan lagi adalah, Orang yang dari dulu membela keputusan saya sebelum pemilwa tahun lalu, kini sudah menjadi orang yang justru mempersuasi saya. Dia bukan lagi teman yang membela keputusan saya. Bukan. Padahal, saya sangat menghormatinya karena saya dibesarkan olehnya. Justru bukan pengalaman menyenangkan yang saya dapatkan tapi justru kehilangan orang yang saya hormati.
Berangkat dari kehilangan itulah saya juga mulai kehilangan rasa hormat saya terhadapnya. Bahkan, dia bukan lagi orang yang bisa saya mintai tolong untuk berlindung.
Sejak akhir bulan kemarin, sudah tercium aroma menjengkelkan darinya. Seolah saya merasakan dialah yang akan kembali menghancurkan pertemanan saya. Berbulan-bulan saya berusaha menghilangkan rasa tidak senang dan kesal. Belum lama sembuh, sudah ada lagi yang mau merusaknya.
Sebenarnya, bukannya saya benci dengan politik kampus yang menyebabkan saya demikian, tetapi sejujurnya kalau boleh mengaku, saya amat sangat membenci politik kampus. Biarlah saya dibilang orang saya mahasiswa apatis, saya mahasiswa nakal, bahkan saya bukan mahasiswa, toh buktinya saya kuliah dan jadi mahasiswa haha *plaakk, pokoknya saya sudah gak lagi peduli.

Karena saat ini, saat ini, dan sampai kedepannya, yang saya butuhkan adalah teman baik, teman yang bukan hanya sekedar teman kenal, tetapi teman baik yang mampu menolong masa depan saya untuk menjadi seorang manager marketing ketika teman-teman saya menjadi orang sukses.
Jadi saya mohon, jangan lagi ambil dan beli ideology teman-teman saya dengan berbagai jabatan yang memunculkan permusuhan antara saya dengan teman saya lagi. Karena sepertinya, kebencian saya sudah tak bisa lagi ditolong dengan cara apapun. Buktinya, sampai sekarang belum ada yang bisa membuat saya yakin.

Biarkan saya hidup tenang dengan teman saya ini barang sebentar saja. Saya sudah cukup berusaha keras untuk memaafkan semua orang termasuk memaafkan diri saya sendiri. Sudah cukup!

nima

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar disini :)