Selasa, 15 Mei 2012

Indonesia masih Memimpikan Sebuah Emansipasi



*Anima

Bagi Raden Ajeng Kartini, bukan hal muluk-muluk yang ingin diperjuangkannya untuk perempuan-perempuan Indonesia, semenjak surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda yang berisikan curahan hati tentang perlakuan bangsanya terhadap perempuan. Diambil dari sebuah suratnya pada 23 Agustus 1900, yang menggambarkan motto hidupnya “aku mau” bahwa yang ia inginkan adalah hak-hak wanita untuk mendapatkan pendidikan sama dengan lelaki. Bahwa wanita juga berhak mendapatkan kesamaan hukum di mata negara. Ya, emansipasi wanita orang abad 21 menyebutnya.
Pemikiran-pemikiran Kartini yang ditulis tahun 90-an hingga saat ini masih relevan dan menjadi sebuah inspirasi bagi wanita Indonesia yang merupakan cita-cita, harapan, dan pemikiran RA. Kartini melawan bentuk kesewenangan dan penindasan terhadap harkat wanita pribumi (Jawa) yang selalu mendapatkan perlakuan diskriminatif secara kultural. Seperti inilah pemikiran Kartini yang dikutip dari buah suratnya pada sahabatnya,
...Teman kami ingin melihat saya bekerja dengan pena saya untuk menaikkan derajat bangsa kami. Saya harus menerbitkan majalah atau yang sejenis dengan itu, yang membela kepentingan rakyat dan saya yang memimpin redaksinya. Atau, saya harus menjadi pembantu harian dan majalah terkemuka di Hindia, dan di situ menulis karangan-karangan yang tajam, yang harus membuat orang terbangun bahkan membuat orang-orang yang tidur nyenyak terkejut bangun!!...
(Surat Kartini kepada Estelle Zeehandelaar 11 Oktober 1901)[1]
Sebuah surat luar biasa dari seorang pemuda Indonesia yang di kenang seluruh anak negeri melalui lagu Ibu Kita Kartini. Pemikiran yang lahir dari rahim perempuan Jawa yang mencoba memperjuangkan hak perempuan pribumi ini pun menginspirasi pergerakan wanita Indonesia untuk mencapai harkat yang ‘setara dengan laki-laki’. Benar, Emansipasi disini bukan lagi berarti tuntutan tuntutan terhadap hak pendidikan dan hukum melainkan “kesetaraan dengan laki-laki”. Lalu muncullah istilah persamaan gender. Mungkin arti dari persamaan gender ini bukan feminis sama dengan maskulin, tetapi, apapun bentuknya, cirri dan kategori gender feminis dan maskulin merupakan titik yang berbeda dan jauh. Artinya, pergeseran maskulinitas maupun feminitas yang terjadi pun tetap tidak akan merubah kodrat kedua gender tersebut. Seringkali wanita menginginkan kedudukan yang sama, jabatan yang sama, pekerjaan yang sama, atau bahkan wanita ingin mendominasi lelaki seperti motto Kartini, “wanita mau” bukan lagi “aku mau”. Dalam kamus ilmiah popular, emansipasi merupakan istilah yang baik yakni “gerakan untuk memperoleh pengakuan persamaan kedudukan, derajat serta hak dan kewajiban dalam hukum bagi wanita”. Namun, ternyata peran emansipasi sudah bergeser, bukan lagi persamaan kedudukan tapi domination.
Faham feminis juga memiliki implikasi negatif yang pada akhirnya merusak tananan sosial  masyarakat. Feminisme yang diperjuangkan Kartini bukan yang sebagaimana difahami wanita modern sekarang, sifat egaliter yang ingin dikobarkan Kartini adalah kesetaraan bukan tanpa batas sehingga tidak adanya perbedaan antara hak dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Feminisme modern yang lahir dari feminisme liberal dan sosialis inilah yang menimbulkan ketidakstabilan sosial karena tumpang tindih peran. Faham ini memperjuangkan egaliter tanpa batas yang pada akhirnya menimbulkan kesenjangan kualitas maskulin dan feminis dalam diri wanita.[2]
 Sifat mengusai, kompetitif, dan ambisius yang berifat maskulin diadopsi perempuan untuk bisa mengambil peran dalam sektor publik, dan terkadang melemahkan sifat feminisnya yang berkarakter pengasuh, pasif dan pemelihara.
Boleh, wanita menuntun hukum yang sama dengan lelaki, namun, kedudukan dan status wanita tetaplah berbeda di mata islam,
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ. وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang ma’ruf. Akan tetapi kaum lelaki (para suami), mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada kaum wanita (istrinya).” (Al-Baqarah: 228)

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa`: 34)

Esensi dari emansipasi sesungguhnya memang diperlukan, yakni menjadi seorang perempuan dengan kodratnya sendiri dengan cara yang patut. Tak hanya akan mendapatkan keseimbangan yang menyenangkan tetapi juga pahala. Bukankah nikmat ketika seorang wanita mendapatkan perlakuan khusus? Tak perlu jauh-jauh, gerbong wanita sebagai contoh nyatanya. Lantas masih adakah wanita yang tidak tersanjung mendapatkan perlakuan khusus? Yang mendapatkan perlakuan lebih karena kodratnya memang berbeda dari laki-laki di beberapa hal.
Maka Kartini sebenarnya bukanlah kenangan. Ia lebih menyerupai masa depan ketimbang masa silam. Sebuah tugas, sebuah revolusi, atau barangkali, sepancar terang, yang menurutnya sendiri "tidak bisa dipercepat tapi sudah ditakdirkan." Sehingga, tugas kitalah sebagai penerus kartini dan seorang muslimah untuk mempertahankan apa yang telah Kartini raih. Mengembalikan ideology wanita super Indonesia. Merealisasikan cita-cita besar Kartini, “Habis Gelap, Terbitlah Terang.”


ァニマ



[2] Suara Mahasiswa dalam Okezone

2 komentar:

  1. blognya cantik

    o ya, saya sudah follow blog kamu...

    salam kenal ya..
    kalau berkenan silahkan mampir ke blog saya, follow juga boleh… :D itung-itung buat nambah follower

    BalasHapus
  2. trimakasih...hihihi

    siap, saya segera mengunjungi dan menjadi follower :D

    BalasHapus

Silakan berkomentar disini :)