Langsung ke konten utama

Postingan

Keluar dari Zona Nyaman

Genap 5 pekan saya meninggalkan Jakarta dan tinggal di Pulau Sumatera. Tepat sebulan setelah pindah, saya punya kesempatan kembali ke Jakarta karena tugas dadakan. “Akhirnya bisa pulang.” dalam hati sambil bersyukur. “Sebulan disana, terasa sebentar atau lama, Nima?” tanya Pak E saat makan malam setelah akhirmya bisa nginep. “Lama Pak E.” “.... (lagi ambil tissue) kata orang, biasanya kalau terasa sebentar karena merasa enjoy. Ini kok kamu terasa lama.” “Masih belum betah Pak E. Soalnya Nima ga punya temen.”

Berkomunikasi dengan Tuhan (?)

Sudah biasa, memperkenalkan diri --sebagai "anak bungsu" dikantor-- kepada client atau customer kemudian mereka sedikit heran (mungkin kagum wkwk) dengan background kuliah yang bukan keluarga teknik dan turunannya bisa bekerja di perusahaan ini, apalagi bagian equipment. Bisa dihitung berapa biji perempuannya, fyi, di cabang Palembang hanya satu orang, dan itu saya sendiri, mengurus bagian marketing & operation equipment perusahaan pelayaran. Jurusan Ilmu Komunikasi apalagi dengan peminatan marketing & advertising , rasanya masih sangat wajar. Diluar itu semua, hasil kuliah 3 tahun 11 bulan (sampai skripsi) atau bahkan mau kuliah 10 tahunpun, komunikasi adalah sebuah skill, tanpa kuliahpun seseorang bisa berkomunikasi lebih baik daripada sarjana komunikasi. Syukurnya, saya tidak membuat malu diri sendiri sebagai sarjana komunikasi. Sayangnya, saya justru malu kepada diri sendiri!

Pindah (Lagi), 2015!

Coba tebak, siapa yang bisa move on dengan cepat dari Malang? Sebagai kota idaman para mahasiswa dan backpaker khususnya, serta pendaki gunung, pesona Malang pasti menjadi daya tarik. Apalagi mie tarik tofu (endorsement gratis) dan kuliner-kuliner juara beserta cafe yang berjejer dari ujung suhat sampe terusan borobudur, juara pokoknya! Yah, meskipun aku belum selesai mengelilingi Malang dan semua daerah wisatanya, aku masih belum bisa move on setelah 7 bulan lebih meninggalkannya. Ranukumbolo, August 2014 copyright: @17nima

Anak Rantau

Beberapa kali sakit ternyata ga membuatku selalu mundur. Dalam satu semester ini adalah kondisi terparah tapi ada sedikit kebahagiaan didalamnya. Beberapa sakit ringan seperti flu dan meriang, dan sekali sakit yang harus minum obat segaplek (tambah sakit karena ngeliat tumpukan obatnya). Lalu, beberapa hari ini, mulai meriang-meriang dan kondisi perut semakin parah diserta flu dan radang tenggorokan. Aku jadi merasa seperti seorang pesakitan! Disudut ruang kantor, aku mulai mikirin beberapa penyebabnya

Hobi belakangan ini,

Selain sedang kegandrungan dengan "green everything" ternyata Coldplay mampu menghipnotis saya dengan Magic nya. Begini, sebulan terakhir saya selalu didepan laptop dengan revisian-revisian baru. Semenjak penelitian di Jogja, Coldplay selalu menemani perjalanan pulang pergi di kereta. Hasilnya, sampai detik ini, playlist isinya cuma dua lagu Coldplay. Tak membuat bosan apalagi ngantuk.

Juni memasuki Juli

Hallo, Rasanya saya sudah meninggalkan rumah ini lama sekali. Sejak bukan Maret. Entah kenapa saya kehilangan selera menulis, bahkan hanya sekedar untuk curhat. Mungkin karena kebosanan pada hidup. Sekalinya menulis, tulisannya hanya berupa curahan pikiran dan hati seperti saat ini. Lagipula, jangan sampai ada yang tau pikiran dan hati saat itu. Lalu saya berhenti menulis.

1st March : Set Your Goal

Tuhan menciptakan makhluk hidup bukan tanpa tujuan. Jangankan Tuhan sang Maha Pencipta, saya yakin, kita sebagai makhluk yang diciptakan juga memiliki tujuan. Seringkali ketika menanyakan setelah lulus kuliah mau kemana dan mau ngapain? Jawaban yang saya terima berbeda-beda seperti, menikah *skip *skip *skip, wirausaha, kerja di Pertamina, melanjutkan usaha Ayah, dan lain sebagainya. Dari semua itu tetapi inti yang saya dapatkan satu, BEKERJA! Untuk apa kerja? Tentusaja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk apa kebutuhan hidup dipenuhi? Untuk beribadah. “Tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk menyembahku.” Ketika dihadapkan pada HRD sebuah korporasi, pertanyaan itu menjadi sebuah pertanyaan yang membangunkan saya. Anggaplah itu tadi sebagai sebuah pengantar. Ketika kita sudah membuat “goal” dalam hidup, maka tugas kita adalah membuat path menuju goal tersebut. Dalam sebuah bisnis, untuk melangkah kedepan, baik lewat jalur utara maupun jalur selatan pasti me...